Lompat ke isi utama

Berita

Takjil Bukan Sekadar Berbagi, Bawaslu Bangka Selatan Gelorakan Puasa Praktik Curang

Ketua,Anggota dan staf  Bawaslu Bangka Selatan membagikan takjil kepada warga di Toboali sambil menyisipkan pesan antikorupsi dan pengawasan pemilu, Jum'at (21/03/2025)

Ketua,Anggota dan staf  Bawaslu Bangka Selatan membagikan takjil kepada warga di Toboali sambil menyisipkan pesan antikorupsi dan pengawasan pemilu, Jum'at (21/03/2025)

Toboali, Bangka Selatan — Suasana sore Ramadan di pusat Kota Toboali, Jum'at (21/03/2025), tampak berbeda dari biasanya. Puluhan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bangka Selatan membagikan takjil kepada masyarakat dan pengguna jalan. Namun, di balik kesan sederhana pembagian makanan berbuka itu, Bawaslu menanamkan pesan kuat: menolak praktik politik uang dan menjadi pengawas aktif pemilu.

Ketua Bawaslu Bangka Selatan, Amri R, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan demokrasi. “Ramadan jadi momentum tepat untuk memperkuat komitmen kita dalam menghadirkan pemilu yang bersih. Melalui pembagian takjil ini, Bawaslu ingin mengajak masyarakat untuk tidak hanya sekadar menerima, tetapi juga berperan aktif dalam mengawasi jalannya pesta demokrasi. Kesadaran bersama untuk menolak praktik politik uang dan segala bentuk pelanggaran adalah fondasi kuat bagi terwujudnya pemilu yang jujur dan adil di Bangka Selatan,” kata Amri R, di tengah kegiatan.​

Ia menegaskan, Bawaslu memilih pendekatan Ramadan karena kebersamaan saat berbuka puasa mampu menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka dan santai. “Kami ingin pesan pengawasan pemilu sampai ke semua lapisan masyarakat, tidak hanya melalui spanduk atau sosialisasi di kantor. Hadir langsung di jalanan, membagikan takjil, kami berharap masyarakat merasa Bawaslu benar-benar dekat dan siap mendengar setiap keluhan serta laporan seputar pemilu di wilayah mereka,” imbuh Amri.

Dalam aksi tersebut, anggota Bawaslu juga mengingatkan masyarakat mengenai ciri-ciri pelanggaran pemilu yang kerap terjadi, mulai dari politik uang, kampanye tidak sehat, hingga netralitas penyelenggara. Masyarakat diajak untuk berani melaporkan apabila mendapati indikasi kecurangan. "Kampung halaman kita harus jadi contoh, pemilu berjalan jujur tanpa intimidasi dan janji imbalan. Semua punya hak dan tanggung jawab untuk mengawasinya," tutur salah satu anggota Bawaslu di sela pembagian takjil.​

Respon hangat terlihat dari masyarakat. Tak sedikit yang menyambut baik aksi ini, bahkan terlihat antusias berdialog dan menanyakan langsung mekanisme pengawasan pemilu. “Baru kali ini saya merasa pengawas pemilu benar-benar hadir bersama kami di jalan, bukan hanya saat coblosan saja,” ucap Anton, salah seorang warga.

Kegiatan ini, menurut Bawaslu, diharapkan bisa menjadi langkah berkelanjutan. Setelah Ramadan, sosialisasi dan edukasi pengawasan partisipatif akan terus digencarkan, terutama jelang Pilkada mendatang.

Penulis : Derinanto 

Foto : Fajar 

Editor : Budi Hartono