Lompat ke isi utama

Berita

Menggerakkan Masyarakat Bangka Selatan Jadi Pengawal Demokrasi Melalui Pendidikan Pengawasan

Toboali, Bangka Selatan – Dalam dinamika demokrasi lokal yang semakin kompleks, keberhasilan penyelenggaraan Pemilu di Kabupaten Bangka Selatan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), tetapi juga dari kualitas pengawasan yang melingkupi seluruh tahapan. Salah satu strategi penting yang terus dikembangkan oleh Bawaslu Republik Indonesia adalah melalui Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P).

Program ini merupakan transformasi dari Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif (SKPP) dan kini diperluas ke berbagai segmen masyarakat, termasuk generasi muda, tokoh agama, perempuan, penyandang disabilitas, hingga komunitas akar rumput.

Menurut Lolly Suhenty, Anggota Bawaslu RI yang dikenal aktif mendorong pengawasan partisipatif, P2P bukan hanya program pelatihan teknis, tetapi juga ruang pembelajaran etika demokrasi dan keberanian moral.

“Kita ingin membentuk pengawas yang bukan hanya mampu, tapi juga berani. Berani menyuarakan kebenaran demi keadilan Pemilu,” tegas Lolly.

Kenapa P2P Penting Bagi Bangka Selatan?

Bawaslu Kabupaten Bangka Selatan memandang Pendidikan Pengawas Partisipatif sangat strategis untuk memperkuat integritas demokrasi lokal. Berikut beberapa alasan mengapa program ini penting:

  1. Meningkatkan Literasi Kepemiluan Masyarakat Bangka Selatan
    Banyak masyarakat di desa-desa masih belum sepenuhnya memahami peran penting mereka dalam pengawasan Pemilu. P2P hadir memberikan edukasi tentang jenis-jenis pelanggaran Pemilu, cara melaporkan, hingga pentingnya menjaga netralitas dan anti politik uang.

  2. Menjawab Keterbatasan Pengawas Formal di Lapangan
    Dengan kondisi geografis yang beragam di Bangka Selatan, Bawaslu tidak mungkin menjangkau seluruh wilayah secara maksimal tanpa bantuan pengawasan dari masyarakat. P2P menjadikan masyarakat sebagai "mata dan telinga" Bawaslu.

  3. Membangun Budaya Demokrasi dari Akar Rumput
    Program ini memperkuat pemahaman bahwa pengawasan bukan semata tugas lembaga formal, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Semakin dini masyarakat terlibat, semakin kuat pula fondasi demokrasi kita.

  4. Meningkatkan Kepercayaan Publik Terhadap Pemilu
    Ketika masyarakat merasa dilibatkan dan berdaya dalam proses Pemilu, kepercayaan terhadap hasil Pemilu pun meningkat. Hal ini penting dalam memerangi apatisme dan sikap skeptis terhadap proses demokrasi.

Dukungan dan Tantangan

Bawaslu Bangka Selatan menyadari bahwa untuk mengoptimalkan pelaksanaan P2P, dibutuhkan dukungan berbagai pihak. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, serta lembaga pendidikan sangat menentukan keberhasilan program ini.

Tantangan tetap ada, mulai dari keterbatasan anggaran, fasilitas, hingga pelatihan fasilitator. Namun, antusiasme masyarakat Bangka Selatan dalam mengikuti program-program pengawasan partisipatif selama ini menjadi modal berharga.

Komitmen Bawaslu Bangka Selatan

Ketua Bawaslu Bangka Selatan menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen memperluas jangkauan pendidikan pengawasan partisipatif hingga ke tingkat desa dan komunitas.

“Kami ingin menciptakan ekosistem demokrasi yang sehat di Bangka Selatan. Pendidikan Pengawas Partisipatif adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas,” tegasnya.

Kesimpulan
Pendidikan Pengawas Partisipatif bukan sekadar program, melainkan gerakan kebangsaan untuk menjaga kedaulatan rakyat. Demokrasi yang sehat membutuhkan rakyat yang sadar, terdidik, dan berani mengawasi. Maka, di Bangka Selatan, menjawab pertanyaan “Mengapa P2P penting?” jawabannya jelas: karena masa depan demokrasi ada di tangan rakyat yang berdaya.

Penulis : Derinanto